Artikel

BELAJAR DARI STARBUCKS (bagian 1, PEOPLE DEVELOPMENT)

Satu tahun terakhir saya makin penasaran banget dengan Starbucks.

Saya kagum, dengan lebih dari 30,000 kedai (as of June 30, 2019) dan lebih dari 200.000an karyawan dimana hampir setiap kedai yang saya kunjungi itu “menyenangkan”.

Saya juga masih penasaran dengan covid ini, bagaimana Starbucks melalui nya ;).

Barista atau tukang kopi nya itu juga bangga banget dengan pekerjaan nya (padahal cuma tukang kopi lhoo). Pasti ada sesuatu yang spesial.

Bagaimana mendesain sedemikian rupa sehingga tukang kopi (barista, yang sekarang menjadi profesi yang di idamkan banyak anak milenial) bisa cinta dan bisa sangat romantis dengan kopi.

Pasti ada VALUE dari founder nya yang memang nancep banget.

Dan ternyata benar, foundernya mempunyai misi meng edukasi pelanggannya bagaimana cara menikmati kopi kelas dunia.

Sewaktu berkunjung di beberapa kedai di Indonesia juga mempunyai kualitas kopi dan pelayanan yang oke, padahal jauh dari Seattle asal mula nya Starbucks.

Artinya people development nya memang ga main-main. Kabarnya memang buat kurikulumnya jutaan dollar. WOW!

Saking penasaran, saya kemudian baca buku2 karya Howard Schultz, PRESDIENT STARBUCKS, yang awal nya adalah karyawan Starbucks, juga buku The Power of Habit yang menyingung HABIT di Starbucks, juga bagaimana kepempimpinannya Schultz, bagaimana membuat Starbucks bertumbuh secara raksasa.

Dan dalam enam tahun, Starbucks bisa mengembangkan 1000 kedai lebih.

Nah bagaimana bisa bertumbuh secepat ini ? (kita bahas di sesi 2 yaaa..)

Oke kembali ke People Development Starbucks.

Howard Schultz memimpin sampai tahun 2000. Namun dari 2000-2007 Starbucks mengalami kemunduran, baik kualitas, pelayanan juga penjualan yang menurun.

Operasional MEMBURUK!. Ups.

Sehingga 2008 Schultz kembali memimpin.

Tahun 2008 perbaikan kembali, dengan mengutamakan people development dengan fokus WILLPOWER dan kepuasan pelanggan.

Bahkan sewaktu perbaikan, operasional di jam 17.30 – 21.00 kedai tutup hanya untuk training team nya.

Starbucks kala itu mencatat kerugian 6 miliar dolar sewaktu menutup gerainya. Gilak!

Schultz tidak peduli dengan menurunnya omset sementara. Namun operational membaik untuk jangka panjang.

Perusahaan gagal berkembang kebanyakan karena 3 hal yaitu tidak berinvestasi terhadap manusia, system dan proses.

Kebanyakan meremehkan hal ini. Sehingga meremehkan juga bagaimana akan merasakan KERUGIAN jika pondasi ini tidak di lakukan.

Ada 2 hal yang menjadi fokus di kurikulum Starbucks : WILLPOWER dan SELF DISCIPLINE.

Bagaimana teamnya mempunyai kekuatan tekad yang baik.

Bagaimana teamnya memiliki self control yang mampu mengendalikan emosi dan membatasi diri sehingga fokus pada tujuan.

Bagaimana teamnya bertanggung jawab atas amanah yang di emban sehingga memberikan yang terbaik.

Para manager nya melatih hal tersebut sehingga self dispilcine dan willpower menjadi habit di organisasi Starbucks.

Corporate Culture terjadi di Starbucks.

Dan di tahun pertama gabung di Starbucks, program nya salah satunya adalah dengan training lebih dari 50 jam di kelas. Dan lusinan jam PR di rumah.

Kuncinya memang WILLPOWER dan SELF DISCIPLINE. Bagaimana ini nancep di team.

Nah materi2 self discipline, personal leadership ini ada juga di bahas di EWCM nya Human Plus. (https://shop.humplus.com/produk/world-class-manager/)

Jangan jauh2 dulu bicara teknis A – B – C sama team kita, tapi kita ga perbaiki DIRI team kita. Attitude nya.

Karena hakekat nya adalah : jika team bisa selesai dengan dirinya. Maka team akan disiplin dan tanggung jawab dengan pekerjaan nya.

Salam
Nia

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment